Dikenal Sepenuhnya
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh... sebab sebelum lidahku mengucapkan sepatah kata pun, sesungguhnya, ya TUHAN, Engkau sudah mengetahui semuanya... Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib."
Ada satu jenis lelah yang muncul saat kita dikenal oleh banyak orang, tetapi tidak benar-benar dipahami oleh siapa pun. Kita bisa punya ratusan kontak di ponsel, tetapi tetap merasa tidak ada yang sungguh-sungguh melihat diri kita yang sebenarnya — diri yang ada di balik versi yang biasa kita tampilkan. Kita sudah terlalu mahir mengatur apa yang orang lain lihat, sampai-sampai kita lupa rasanya benar-benar dikenal. Sepenuhnya. Tanpa perlu diperbaiki lebih dulu.
Itulah yang sedang Daud rasakan ketika ia membuka Mazmur 139. Perhatikan polanya: "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri... sebelum lidahku mengucapkan sepatah kata pun, Engkau sudah mengetahui semuanya." Daud tidak sedang berbicara tentang Tuhan yang hanya melihat sekilas. Ia sedang berbicara tentang Tuhan yang tidak pernah sekali pun memalingkan wajah-Nya — bukan hanya di hari-hari baik, bukan hanya atas pikiran yang berani kita ucapkan dengan lantang.
Inilah bagian yang layak kita renungkan lebih dalam. Kata "mengenal" di sini bukan sekadar tahu dari kejauhan — ini jenis pengenalan yang dipakai untuk seseorang yang sudah bertahun-tahun berjalan bersama kita; yang mengerti isi hati kita, bukan sekadar tahu fakta tentang kita. Daud tidak berkata bahwa Tuhan menyimpan data tentang kita. Ia berkata bahwa Tuhan memegang hidup kita — bagian yang ingin kita pajang, dan bagian yang ingin kita hapus.
Saya teringat seorang teman yang berbulan-bulan menunda pergi ke dokter, karena ia tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuhnya. Baginya, tidak tahu terasa lebih aman daripada mengetahui segalanya. Banyak dari kita melakukan hal yang sama kepada Tuhan — kita lebih memilih menjaga jarak daripada membiarkan Dia sungguh-sungguh dekat dan melihat semuanya, karena kita merasa bahwa kalau benar-benar dikenal, ujungnya pasti dihakimi.
Tetapi lihatlah ke mana Daud membawa perenungan ini. Ia tidak jatuh ke dalam rasa malu. Ia justru langsung melanjutkan ke ayat 13: "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku." Tuhan yang sama, yang mengetahui setiap kata yang belum terucap, adalah Tuhan yang sama yang dengan sengaja dan penuh kelembutan membentuk kita. Pengenalan yang penuh dan kasih yang penuh, dalam satu tarikan napas yang sama. Inilah inti dari mazmur ini: dikenal sepenuhnya oleh Tuhan ternyata bukanlah bagian yang berisiko. Justru di sanalah satu-satunya tempat kita boleh berhenti berpura-pura.
Kamu tidak perlu lagi mengatur apa yang sudah Tuhan lihat.
Aku dikenal sepenuhnya oleh Tuhan, dan aku tidak ditolak — aku dibentuk, ditenun, dan dikasihi oleh-Nya.
Tuhan, saya berterima kasih karena Engkau mengenal setiap bagian dari diriku dan tetap tinggal di dalamku. Tolong aku untuk berhenti berpura-pura di hadapan-Mu hari ini, dan biarkan aku benar-benar dikenal oleh-Mu.
Sampai di sini dulu — selebihnya butuh akun.
Hari 1 gratis untuk dicoba. Untuk menulis renungan, menjaga streak, dan membuka hari-hari berikutnya, daftar dulu. Cukup dengan akun Google atau email. Gratis.